KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis
Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas
tentang “ Hakekat Anak Usia Dini ( AUD ) Menurut Tinjauan Psikologis “
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari
berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari
Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
semua.
Penulis
DAFTAR ISI
|
Kata Pengantar
|
……………………………..
|
1
|
|
|
Daftar Isi
|
……………………………..
|
2
|
|
|
BAB I
|
Pendahuluan
|
……………………………..
|
3
|
|
|
I. Latar Belakang
|
……………………………..
|
3
|
|
|
II. Tujuan Penulisan
|
……………………………..
|
4
|
|
|
III. Ruang Lingkup Penulisan
|
……………………………..
|
4
|
|
BAB II
|
Pembahasan
|
……………………………..
|
5
|
|
|
I. Pengertian
|
……………………………..
|
5
|
|
|
II. Hakikat AnakUsia Dini dari
Tinjauan Psikologis
|
……………………………..
|
5
|
|
|
III. Aspek Perkembangan Anak Usia
Dini
|
……………………………..
|
6
|
|
BAB III
|
Penutup
|
……………………………..
|
14
|
|
|
I. Kesimpulan
|
……………………………..
|
14
|
|
|
II. Saran
|
……………………………..
|
14
|
|
Daftar Pustaka
|
……………………………..
|
15
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Memasuki
milenium ke tiga Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan
masyarakat menuju era baru, yaitu globalisasi yang menyentuh semua aspek
kehidupan. Dalam era global ini seakan dunia tanpa jarak. Komunikasi dan
transaksi ekonomi dari tingkat lokal hingga internasional dapat dilakukan
sepanjang waktu.
Demikian
pula nanti ketika perdagangan bebas sudah diberlakukan, tentu persaingan dagang
dan tenaga kerja bersifat multi bangsa. Pada saat itu hanya bangsa yang
unggullah yang anak mampu bersaing.
Pendidikan
merupakan modal dasar untuk menyiapkan insan yang berkualitas. Menurut
Undang-undang Sisdiknas Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut
UNESCO pendidikan hendaknya dibangun dengan empat pilar, yaitu learning to
know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Pada
hakikatnya belajar harus berlangsung sepanjang hayat. Untuk menciptakan
generasi yang berkualitas, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini dalam hal
ini melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu pendidikan yang ditujukan
bagi anak sejak lahir hingga usia 6 tahun.
Sejak
dipublikasikannya hasil-hasil riset mutakhir di bidang neuroscience dan
psikologi maka fenomena pentingnya PAUD merupakan keniscayaan. PAUD menjadi
sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk
pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini sehingga usia dini sering
disebut the golden age (usia emas).
B.
Tujuan
Tujuan
penulisan ini adalah untuk melihat bagaimana perkembangan anak usia dini ( AUD
) jika dilihat dari sisi psikologis dan mencoba membahas bagaimana aspek-aspek
perkembangan anak usia dini tersebut.
C.
Ruang Lingkup Penulisan
Dalam
pengkajian ini yang dibahas hanya berkisar kepada bagaimana aspek perkembangan
Anak Usia Dini ( AUD ) jika dilhat dari tinjauan secara psikologisnya serta
bagaimana aspek – aspek yang membangun serta yang harus diperhatikan dalam
proses perkembangan anak itu.
BAB II
PEMBAHASAN
I.
Pengertian
Yang dimaksud dengan anak usia
dini atau anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 0 sampai 6 tahun.
Mereka biasanya mengikuti program prasekolah atau kindergarten.
Sedangkan di Indonesia umumnya mereka
mengikuti program tempat penitipan anak dan kelompok bermain (play
group).Sementara itu, menurut direktorat pendidikan anak usia dini,pengertian
anak usia dini adalah anak usia 0 – 6 tahun, baik yang terlayani maupun yang
tidak terlayani di lembaga pendidikan anak usia dini.
Hal ini sesuai dengan ketentuan
umum Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk memba ntu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Dari pengertian tersebut
tergambar bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6
tahun. Hal ini sejalan dengan Undang-undang sistem pendidikan nasional no. 20
tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 28 ayat 1 yaitu pendidikan anak usia dini
diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Sedangkan jenjang pendidikan
dasar dimulai pada usia 7 tahun.
II.
Hakikat
Anak Usia Dini Menurut Tinjauan Psikologis
Secara psikologis kaidah
atau hakikat anak usia dini ( AUD ) sangatlah tidak bisa dipisahkan dari suatu
pendekatan mengenai perkembangan dan pertumbuhan anak saat lahir. Perkembangan
motorik dan fisik anak sangatlah berhubungan dengan pertumbuhan psikis anak.
Oleh karena itu psikologi perkembangan anak usia dini berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Anak akan mengalami
suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana
saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan
pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa
keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan
mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan
berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan
perkembangan sosial.
Lonjakan perkembangan
ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak
akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat
perkembangan dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian
khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak
di masa yang akan datang. Guna mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal
yang harus di perhatikan orang tua mengenai perkembangan anaknya.
III.
Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
1.
Aspek Moral
Menurut Megawangi, dalam
Siti Aisyah dkk. (2007: 8.36), anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang
berkarakter apabila mereka berada di lingkungan yang berkarakter pula. Usaha
mengembangkan anak-anak agar menjadi pribadi-pribadi yang bermoral atau berkarakter
baik merupakan tangguang jawab keluarga, sekolah, dan seluruh komponen
masyarakat. Usaha tersebut harus dilakukan secara terencana, terfokus, dan
komprehensif.
Pengembangan moral anak
usia dini melalui pengembangan pembiasaan berperilaku dalam keluarga dan
sekolah.
a. Pengembangan
berperilaku yang baik dimulai dari dalam keluarga
Keluarga merupakan
lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Keluarga merupakan
lingkungan pendidikan pertama dan paling efektif untuk melatih berbagai
kebiasaan yang baik pada anak, ada 10 hal penting yang harus diperhatikan dan
dijadikan prinsip dalam mengembangkan karakter anak dalam keluarga, yaitu
sebagai berikut.
1)
Moralitas penghormatan
Hormat merupakan kuci utama untuk dapar hidup harmonis dengan
masyarkat. Moralitas penghormatan mencakup:
a) Penghormatan kepada diri sendiri untuk
mencegah agar diri sendiri tidak terlibat dalam perilaku yang merugikan diri
sendiri.
b) Penghormatan kepada sesama manusia meskipun berbeda suku, agama,
kemampuan ekonomi, dst.
c) Penghormatan kepada lingkungan fisik yang
merupakan ciptaan Tuhan.
2) Perkembangan moralitas kehormatan berjalan
secara bertahap
Anak-anak tidak bisa
langsung berkembang menjadi manusia yang bermoral, tetapi memerlukan waktu dan
proses yang terus menerus, dan memerlukan kesabaran orang tua untuk melakukan
pendidikan tersebut.
3) Mengajarkan prinsip
menghormati
Anak-anak akan belajar
menghormati orang lain jika dirinya merasa bahwa pihak lain menghormatinya.
Oleh karena itu orang tua hendaknya menghormati anaknya. Penghormatan orang tua
kepada anak dapat dilakukan misalnya dengan menghargai pendapat anak,
menjelaskan kenapa suatu aturan dibuat untuk anak, dst.
4) Mengajarkan dengan contoh
Pembentukan perilaku pada
anak mudah dilakukan melalui contoh.
Oleh karena itu contoh nyata dari orang tua bagaimana seharusnya anak
berperilaku harus diberikan. Selain itu, orang tua juga bisa membacakan
buku-buku yang di dalamnya terdapat pesan-pesan moral. Orang tua hendaknya
mengontrol acara-acara televisi yang sering ditonton anaknya, jangan sampai
acara yang disukai anak adalah acara yang berpengaruh buruk pada perkembangan
moralnya.
5) Mengajarkan dengan kata-kata
Selain mengajar dengan
contoh, orang tua hendaknya menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia contohkan.
Misalnya anak dijelaskan mengapa berdusta dikatakan sebagai tindakan yang
buruk, karena orang lain tidak akan percaya kepadanya.
6) Mendorong anak unruk merefleksikan tindakannya
Ketika anak telah melakukan tindakan yang salah, misalnya merebut
mainan adiknya sehingga adiknya menangis, anak disuruh untuk berpikir jika ada
anak lain yang merebut mainannya, apa reaksinya.
7) Mengajarkan anak untuk mengemban tanggung
jawab
Anak-anak harus dididik untuk menjadi pribadi-pribadi yang
altruistik, yaitu peduli pada sesamana. Untuk itu sejak dini anak harus dilatih
melalui pemberian tanggung jawab.
8) Mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan
kontrol
Keseimbangan antara kebebasan dan kontrol diperlukan pengembangan
moral anak. Anak diberi pilihan untuk
menentukn apa yang akan dilakukannya namun aturan-aturan yang berlaku harus
ditaati.
9) Cintailah anak, karena cinta merupakan dasar
dari pembentukan moral
Perhatian dan cinta orang tua kepada anak merupakan kontribusi
penting dalam pembentukan karakter yang baik pada anak. Jika anak-anak
diperhatikan dan disayangi maka mereka juga belajar memperhatikan dan
menyayangi orang lain.
10) Menciptakan keluarga bahagia
Pendidikan moral kepada
anak tidak terlepas dari konteks keluarga. Usaha menjadikan anak menjadi
pribadi yang bermoral akan lebih mudah jika jika anak mendapatkan pendidikan
dari lingkungan keluarga yang bahagia. Untuk itu usaha mewujudkan keluarga yang
bahagia merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh orang tua sehubungan dengan
erkembangan moral anaknya.
2.
Aspek Nilai Agama
Menurut
Zakiah Darajat (dalam Lilis Suryani dkk., 2008: 1.9), agama suatu keimanan yang
diyakini oleh pikiran, diresapkan oleh perasaan, dan dilaksanakan dalam
tindakan, perkataan, dan sikap.
Perkembangan nilai-nilai agama artinya perkembangan dalam kemampuan
memahami, mempercayai, dan menjunjung tinggi kebenaran-kebenaran yang berasal
dari Sang Pencipta, dan berusaha menjadikan apa yang dipercayai sebagai pedoman
dalam bertutur kata, bersikap dan bertingkah laku dalam berbgaia situasi.
Anak
mampu memperhatikan perilaku keagamaan yang diterima melalui inderanya ,Anak
mulaimeniru perilaku keagamaan secara sederhana danmulai mengekspre-sikan rasa
sayang dan cinta kasih,Anak mampu meniru secara terbatas perilaku keagamaan
yang dilihat dan didengarnya
Mulai
meniru perilaku baik atau sopan,Anak mampu meniru dan mengucapkan bacaan
doa/lagu-lagu keagamaan dan gerakan beribadah secara sederhana, mulai
berperilaku baik atau sopan bila diingatkan ,Anak mampu meng- ucapkan bacaan
doa/ lagu-lagu keagamaan, meniru gerakan ber- ibadah, mengikuti aturan serta
mampu belajar berpetilaku baik dan sopan bila diingatkan ,Anak mampu melakukan
perilaku keagamaan secara berurutan dan mulai belajar membedakan perilaku baik
dan buruk
Pemahaman
anak akan nilai-nilai agama menurut Ernest Harms (dalam Lilis Suryani dkk.,
2008; 1.10 – 1.11) berlangsung melalui 3 tahap, yaitu sebagai berikut.
1. Tingkat
Dongeng (The Fairy Tale Stage)
Tingkat
ini dialami oleh anak yang berusia 3 – 6 tahun. Ciri-ciri perilaku anak pada
masa ini masih banyak dipengaruhi oleh daya fantasinya sehingga dalam menyerap
materi ajar agama anak juga masih banyak menggunakan daya fantasinya.
2. Tingkat
Kenyataan (The Realistic Stage)
Tingkat
ini dialami anak usia 7 – 15 tahun. Pada masa ini anak sudah dapat menyerap
materi ajar agama berdasarkan kenyataan-kenyataan yang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Anak sudah tertarik pada apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
keagamaan. Segala bentuk tindak amal keagamaan mereka ikuti dan tertarik untuk
mempelajari lebih jauh.
3. Tingkat
Individu (The Individual Stage)
Tingkat
individu dialami oleh anak yang berusia 15 ke atas. Konsep keagaamaan yang
individualistic ini terbagi atas tiga bagian, yaitu: a. konsep keagamaan yang
konvensional dan konservatif yang dipengaruhi oleh sebagian kecil fantasi, b.
konsep keagamaan yang murni dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal,
dan c. konsep keagamaan yang humanistic. Agama telah menjadi etos humanis dalam
diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Pengembangan
nilai-nilai agama pada anak harus didasarkan pada karakteristik perkembangan
anak. Jika memperhatikan pendapat Ernest Harms sebagaimana dikemukakan di atas,
maka usaha pengembangan nilai-nilai agama menjadi efektif jika dilakukan
melalui cerita-cerita yang di dalamnya terkandung ajaran-ajaran agama. Dengan
demikian daya fantasi anak berperan dalam menyerap nilai-nilai agama yang
terdapat dalam cerita yang diterimanya.
a.
Aspek Fisik Motorik
Perkembangan
aspek fisik/motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan
pengendalian gerak tubuh. Ketrampilan motorik kasar diawali dengan bermain yang
merupakan gerakan kasar. Pada usia 3 tahun sesuai dengan tahap perkembangan,
anak pada umumnya sudah menguasai sebagian besar ketrampilan motorik kasar.
Sementara ketrampilan motorik halus baru mulai berkembang, yang diawali dengan
kegiatan yang amat sederhana seperti memegang sendok, memegang pensil,
mengaduk. Ketrampilan motorik halus lebih lama pencapaiannya dari pada
ketrampilan motorik kasar karena ketrampilan motorik halus membutuhkan
kemampuan yang lebih sulit misalnya konsentrasi, control, kehati-hatian, dan
kondisi otot tubuh yang satu dengan yang lain.
Ketrampilan motorik anak pada usia 4-6 tahun
mempunyai perbedaan dengan orang tua dalam hal (1) cara memegang, (2) cara
berjalan dan (3) cara menyepak/menendang. Pada anak cara mamegang dilakukan
dengan asal saja, sedangkan orang dewasa memegang benda dengan cara yang khas,
agar dapat dipergunakan secara optimal.
Ketika
orang dewasa berjalan, hanya memerlukan otot-ototnya yang diperlukan saja,
sedangkan anak-anak berjalan seolah-olah semua tubuhnya ikut bergerak. Dalam menyepak/menendang, anak-anak menyepak
bola diikuti dengan kedua belah tangannya yang ikut maju kedepan secara berlebihan.
Masa lima tahun pertama adalah masa emas bagi motorik anak.
Perkembangan
ketrampilan motorik merupakan factor yang sangat penting bagi perkembangan
kepribadian anak secara keseluruhan. Elizabeth Hurlock (1956) mencatat beberapa
alas an tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan
individu, yaitu sebagai berikut :
1. Melalui
ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan
senang, seperti anak merasa senang dengan memiliki ketrampilan memainkan boneka,
melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat lainnya.
2. Melalui ketrampilan motorik anak dapat
beranjak dari kondisi helplessness (tidak berdaya) pada bulan-bulan pertama
kehidupannya, ke kondisi yang
independence (bebas tidak bergantung). Anak dapat bergerak dari satu tempat
ketempat yang lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini
akan menunjang perkembangan self confidence (rasa percaya diri).
3. Melalui ketrampilan motorik, anak dapat
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah (school adjustment). Pada usia
TK atau pra sekolah, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, mewarnai
dll.
4. Melalui
perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul
dengan teman sebayanya, sedangkan yang
tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya
bahkan dia akan dikucilkan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
5. Perkembangan ketrampilan motorik sangat
penting bagi perkembangan self concept atau kurang konsep diri/kepribadian
anak.
3.
Aspek Seni
Anak
mampu bereaksi terhadap irama yang didengarnya ,Anak mampu meniru suara dan
gerak secara sederhana Anak mampu melakukan berbagai gerakan anggota tubuhnya
sesuai dengan irama dapat mengekpresi-kan diri dalam bentuk goresan
sederhana,Anak mampu melakukan berbagai gerakan sesuai irama , menyajikan dan
berkarya seni,Anak mampu meng- ekspresikan diri dengan meng- gunakan berbagai
media/bahan dalam berkarya seni melului kegiatan eksplorasi,Anak mampu meng-
ekspresikan diri dan ber- kreasi dengan berbagai gagasan imajinasi dan
menggunakan berbagai media/bahan menjadi suatu karya seni.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
uraian bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20
Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b. Masa
Usia Dini adalah masa golden age atau usia keemasan, masa ini adalah masa
terpenting anak karena semua perkembangan otaknya terjadi pada saat ini.
Disinilah kita harus mengetahui apa saja apek-aspek perkembangan anak dan pola
perkembangan anak. Sehingga anak dapat berkembang dengan baik.
3.2
Saran
Dari
uraian di atas, maka penulis dalam hal ini mengajukan beberapa saran antara
lain.
Perlu
adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan anak usia dini, baik
yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat. Masa prasekolah
yang disebut dengan masa keemasan perkembangan intelektual seharusnya dijadikan
dasar bagi upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia.
(
Dari Berbagai Sumber )