Thursday, January 9, 2014

MAKALAH KEBERHASILAN PEMBELAJARAN STRATEGI PEMBELAJARAN MODEL PEMBELAJARAAN KOOPERATIF DALAM MATA PELAJARAN SAINS KELAS V SD



Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan strategi dapat diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (J. R. David, 1976). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran.
Sementara itu, (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dapat pula diartikan sebagai usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa untu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan RPP yang terlampir, strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah srategi pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan.
Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Tujuan srategi pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. pembelajaran tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, tujuan yang diingin dicapai bukan hanya tujuan akademik atau pengetahuan akan kompetensi, akan tetapi juga unsur kerja sama dalam upaya penguasaan kompetensi tersebut.
Penekanan pada kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif  (Sanjaya, 2009). Menurut Sanjaya (2009), prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu:
a)      penjelasan materi :
Proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa siswa belajar dalam kelompok. Tahapan bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini, guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan diperdalam pada pembelajaran kelompok. Guru dapat menggunakan metode ceramah, brainstorming, tanya jawab, presentasi atau demonstrasi. Penggunaan media dalam hal ini sangat penting agar penyajian dapat lebih menarik.
b)      belajar dalam kelompok:
Pada tahap ini siswa bekerja dalam kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Kelompok dibentuk secara heterogen dan mengakomodasi sebanyak mungkin variable pembeda. Melalui pembelajaran dalam kelompok, siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
c)      penilaian:
Penilaian dalam pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dalam bentuk tes atau kuis. Penilaian dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Penilaian individual akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa secara individu, dan penilaian kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir penilaian dapat mengekuilibrasi penilaian individu dan penilaian kelompok. Nilai setiap kelompok memiliki nilai yang sama terhadap semua anggota kelompoknya, karena nilai kelompok merupakan hasil kerja sama setiap kelompok.
d)     pengakuan tim:
Pada tahap ini, guru memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap siswa. Di mana penetapan tim yang dianggap paling menonjol dan berprestasi untuk kemudian diberikan perhargaan. Pengakuan dan pemberian penghargaan diharapkan dapat memotivasi siswa dan tim untuk terus membangkitkan semangat berprestasi.


Pembelajaran Kooperatif dengan Menggunakan Metode Diskusi
         Pengertian Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998) dalam Dharma (2008).  Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
         Penggunaan Metode Diskusi Jigsaw
Berdasarkan RPP yang menggunakan metode diskusi sebagai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk mencapai tujuan pembelajaran maka salah satu metode diskusi yang akan diterapkan yaitu metode diskusi Jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk.

Teknik atau cara mengaplikasikan tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.    Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah serta jika mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji).
b.    Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya   dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c.    Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
d.   Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan    perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
e.    Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
f.     Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru, perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dengan melihat karakteristik model pembelajaran kooperatif yang lebih menekankan pada aktivitas belajar secara berkelompok, model ini dapat dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran di kelas. Terlebih lagi terdapat banyak tipe pada model pembelajaran ini yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik serta materi pembelajaran yang akan dibahas. Dengan melibatkan siswa secara aktif pada proses pembelajaran di dalam kelas, diharapkan siswa dapat lebih ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan kemampuan belajarnya sendiri. Proses pembelajaran pun akan menjadi lebih menarik dan tidak membosankan sehingga diharapkan hasil belajar juga akan meningkat.

Seluruh peserta diskusi harus selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajar baik itu berupa bertanya, memberikan jawaban, maupun memberikan sanggahan agar tujuan dari

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Fakhruddin, Asef Umar. 2011. Menjadi Guru Favorit. Jogyakarta: Diva Press.
Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: CV Mandar Maju.
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Rosda.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) DENGAN METODE KOOPERATIF



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) DENGAN METODE KOOPERATIF

1.      Nama Sekolah                   :  
2.      Mata Pelajaran                  :  Sains
3.      Kelas/Semester                  :  V/2
4.      Standar Kompetensi         :  Memahami hubungan antara gaya, gerak, dan
                                                 energi, serta fungsinya.
5.      Kompetensi Dasar             :  Menjelaskan pesawat sederhana yang dapat
                                                 membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat.
6.      Indikator                           :  -  Mengidentifikasi pesawat sederhana.
     -   Menggolongkan berbagai alat rumah tangga
  sebagai pengungkit dan bidang miring.
7.      Tujuan Pembelajaran
1.   Melalui tanya jawab siswa dapat menjelaskan pengertian pesawat sederhana dengan kata-kata sendiri.
2. Setelah berdiskusi kelompok siswa dapat mengidentifikasi alat rumah tangga yang menggunakan prinsip kerja pesawat sederhana dan menggolongkan alat rumah tangga yang termasuk pengungkit atau bidang miring.

8.             Materi Pembelajaran
          Semua jenis alat yang digunakan untuk memudahkan pekerjaan manusia disebut pesawat. Kesederhanaan dalam penggunaannya menyebabkan alat-alat tersebut dikenal dengan sebutan pesawat sederhana. Gabungan beberapa pesawat sederhana dapat membentuk pesawat rumit, contohnya mesin cuci, sepeda, mesin mobil, dan lain-lain. Jadi pesawat sederhana adalah suatu alat yang dapat mempermudah kita untuk melakukan usaha sehingga kita tidak harus memerlukan energi yang besar untuk melakukan usaha tersebut.
Pesawat sederhana dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu tuas/ pengungkit, bidang miring, katrol, dan roda berporos. Pada umumnya, tuas atau pengungkit menggunakan batang besi atau kayu yang digunakan untuk
mengungkit suatu benda. Contohnya jungkat-jungkit, alat pemotong kertas, sekop dan lain-lain. Bidang miring adalah permukaan rata yang menghubungkan dua tempat yang berbeda ketinggiannya. Contohnya yaitu papan miring, tangga dan sebagainya. Katrol merupakan roda yang berputar pada porosnya. Biasanya pada katrol juga terdapat tali atau rantai sebagai penghubungnya. Roda berporos merupakan roda yang di dihubungkan dengan sebuah poros yang dapat berputar bersama-sama. Roda berporos merupakan salah satu jenis pesawat sederhana yang banyak ditemukan pada alat-alat seperti setir mobil, setir kapal, roda sepeda, roda kendaraan bermotor, dan gerinda.

9.      Alokasi waktu                   : 2 x 35 menit
10.  Metode Pembelajaran       : Ceramah, diskusi, tanya jawab dan demonstrasi.
11.  Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran.
a.       Pendahuluan
-   Mengucapkan salam
-   Menanyakan kabar dan mengabsen
-   Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran.
-   Apersepsi
-   Menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan yang akan dilakukan.
-   Menjelaskan tujuan pembelajaran.
b.      Kegiatan inti
  Eksplorasi
-   Siswa menggali pengetahuannya sendiri dengan melakukan tanya jawab.
-  Siswa secara berkelompok menyebutkan benda-benda yang menggunakan prinsip kerja pesawat sederhana.
-  Siswa mengerjakan lembar kerja siswa dengan menggunakan alat yang sudah disipkan.

  Elaborasi
-  Siswa menggolongkan alat-alat yang digunakan tadi ke dalam dua dari empat jenis pesawat sederhana yang ada.
-    Siswa mencatat hasil diskusi pada buku tulis masing-masing.
-  Perwakilan masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapinya.
  Konfirmasi
-     Guru memberikan penegasan terhadap jawaban yang disampaikan siswa.
-     Guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa.
c.       Penutup
-          Guru bersama siswa menyimpulakan materi pembelajaran.
-          Guru merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
-          Guru memberikan umpan balik positif terhadap proses dan hasil pembelajaran.
-          Guru memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa.
-          Guru menyampaikan materi pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
12.  Sumber Bahan: Buku Sains Kelas V, Media (alat-alat rumah tangga)
13.  Penilaian
  Teknik : Pengamatan, lisan
  Bentuk: Lembar pengamatan
      Instrumen :
a.       Lembar pengamatan.
No.
Nama Siswa
Aspek yang dinilai

Rata-rata
Ketepatan hasil
Keaktifan
Kedisiplinan







b.      Soal essay.
Jawablah pertanyaan di bawah mi dengan jelas dan benar!
1.      Jelaskan dengan singkat apa yang dimaksud dengan tuas/pengungkit!
2.      Sebutkan komponen-komponen dari tuas!
3.      Sebutkan 5 (lima) alat rumah tangga yang termasuk menggunakan prinsip kerja pesawat sederhana!
4.      Sebutkan 3 (tiga) alat rumah tangga yang cara kerjanya termasuk pengungkit!
5.      Sebutkan 3 (tiga) jenis pengungkit!

 Kunci jawaban.
1.      Alat-alat yang dapat mempermudah pekerjaan.
2.      Titik tumpu, beban dan kuasa.
3.      Gunting, pisau, palu, obeng, tang.
4.      Jungkat-jungkit, linggis, alat pembuka tutup botol.
5.      Pengungkit jenis pertama, kedua, dan ketiga.

Skor = Jumlah soal benar x 2
Nilai akhir = (skor pengamatan+skor lembaran kerja )/20 x 100



Mengetahui
Kepala Sekolah                                                              Guru Kelas


.....................................                                                   ......................................      
NIP.                                                                    


Skenario Pembelajaran

        Pada awal kegiatan setelah guru memasuki ruang kelas dan mengucapkan salam, guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis agar siswa siap menerima pelajaran. Menyiapkan kondisi fisik berupa mengucapkan ”selamat pagi”, menanyakan kabar siswa dan mengabsen siswa. Menyiapkan kondisi psikis siswa yaitu dengan berdoa bersama sebelum pembelajaran dimulai. Selanjutnya siswa mengeluarkan alat tulis yang ia bawa. Guru menyampaikan cakupan materi serta tujuan pembelajaran, ”Anak-anak hari ini kita akan memperlajari tentang pesawat sederhana, kalian pastinya sudah membaca buku dirumah, namun pada pertemuan kali ini ibu hanya membahas dua jenis pesawat sederhana, mengingat waktu kita yang terbatas, ibu harapkan setelah pembelajaran berlangsung kalian mampu mendefinisikan apa itu pesawat sederhana, komponen-komponen serta golongannya”. Karena pembelajaran pada pertemuan kali ini mengenai pesawat sederhana, maka sebelum sampai pada materi yang akan dipelajari, guru menceritakan pengalamannya terkait dengan materi pelajaran. ”Nah, kemarin ibu membeli sebuah botol fanta, kemudian kalau kita buka menggunakan tangan saja, menurut kalian bagaimana” tanya ibu guru kepada siswa. ”sulit bu” siswa menjawab serempak. ”Pasti, kemudian ibu mengambil inisiatif untuk membukanya dengan menggunakan pembuka botol dan ternyata sangat mudah membukanya dibandingkan dengan hanya menggunakan tangan. Contoh lain misalnya kaleng biskuit yang tentu sulit dibuka hanya dengan menggunakan tangan saja, tetapi akan terasa mudah jika membukanya menggunakan sendok”, guru menceritakan pengalamannya sambil memperhatikan semua siswa.
            ”Nah cerita ibu tadi terkait dengan konsep pesawat sedehana. Kira-kita apakah dari kalian pernah mengalami kejadian serupa?” ibu guru kembali bertanya kepada siswa. Seorang siswa mengacungkan tangan dan guru mempersilahkan siswa tersebut untuk bercerita. ”Kemarin saya melihat bapak sedang memindahkan batu besar, sebelumnya bapak menggunakan tangan dan terlihat sangat sulit menggesernya, kemudian bapak menggunakan linggis, ternyata sangat mudah menggeserkannya” Andi menceritakan pengalamannya dengan sungguh-sungguh. ”Berikan tepuk tangan kepada Andi” kata ibu guru disertai dengan tepuk tangan dari siswa lainnya. Selanjutnya guru bertanya kepada siswa lainnya apakah ada yang mau bercerita lagi dan siswa hanya terdiam. Karena tidak ada yang bercerita ibu guru memberikan pertanyaan kepada siswa, ”Anak-anak sekalian tadi telah kita simak cerita dari Andi. Nah sekarang ibu mau bertanya, apakah linggis yang diceritakan Andi tadi termasuk pesawat sederhana? Jika ia apakah termasuk tuas, bidang miring, katrol atau roda berputar?”. Guru memperhatikan semua siswa yang tampaknya mulai berbisik dengan teman sebangkunya. ”Nah kalian kan pasti sudah membaca buku sebelumnya, sekarang siapa yang mau menjawab?” sambung ibu guru dan beberapa siswa pun mengacungkan tangan selanjutnya guru menunjuk salah satu siswa. ”Linggis termasuk pesawat sederhana jenis pengunglit/tuas bu” jawab Yeni yang terlihat sangat percaya diri dan ibu gurupun memberikan senyuman. ”Kalau begitu siapa yang tau apa saja komponen dari tuas?” Ibu guru kembali bertanya. ”Saya bu, komponen tuas yaitu titik tumpu, beban dan kuasa” jawab salah satu siswa dan ibu guru mengacungkan tangan. ”Nah sekarang dari cerita Andi tadi, siapa yang bisa menunjukkan mana yang termasuk titik tumpu, beban dan kuasa” ibu guru terus memberikan pertanyaan kepada siswa. Siswa yang pertama kali mengacungkan tangan diberikan kesempatan untuk menjawab. Jawaban yang dilontarkan siswa sudah benar namun guru tidak menkonfirmasi secara langsung, guru hanya memberikan penguatan.
            Guru kembali mengalihkan perhatian siswa dengan memberikan masalah lain, ”Nah sekarang anak-anak siapa pernah melihat orang yang memindahkan drum yang berisi minyak ke dalam mobil” tanya ibu guru. ”Saya bu, saya bu” jawab beberapa siswa. ”Baik, saat anak-anak melihat orang memindahkan drum ke dalam mobil, apakah mereka menggunakan tangan atau menggunakan alat bantu” guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab, ”Saya pernah melihat orang yang menaikkan drum ke dalam mobil menggunakan papan yang dimiringkan bu, selanjutnya drum didorong ke atas”. ”Benar sekali jawaban teman kalian. Jika kita menggunakan papan yang dimiringkan untuk menaikkan sebuah drum ke dalam mobil, itu jauh lebih mudah dibandingkan kita mengangkatnya menggunakan tangan, karena berat drum tersebut akan ditumpu oleh papan tersebut. Nah dari ilustrasi diatas apakah papan yang digunakan termasuk pesawat sederhana? Jika ia, termasuk jenis pesawat sederana apa? Tuas, bidang miring, katrol atau roda berputar?” sambung ibu guru. Siswa mulai berdiskusi dengan teman sebangkunya dan ibu guru kembali berkata, ”Kalian pasti sudah membaca buku kemarin kan? Nah hayo siapa yang bisa menjawab”. Salah satu siswa pun menjawab, ”Bidang miring bu, bidang miring berguna untuk membantu memindahkan benda-benda yang terlalu berat. Cara paling mudah memindahkan drum ke dalam mobil yaitu dengan menggunakan bidang miring. Drum dapat didorong atau ditarik melalui bidang miring. Tenaga yang dikeluarkan lebih kecil daripada mengangkat drum secara langsung”. ”Wah tepat sekali jawaban dari Asty, berikan tepuk tangan kepada teman kalian”  sambung ibu guru. ”Nah  selain contoh diatas, apakah ada yang tau contoh bidang miring lainnya?”. Saat guru bertanya siswa terlihat bingung, selanjutnya guru kembali berkata, ”Siapa yang pernah melihat orang yang memenjat pohon kelapa? kira-kira gampangan mana jika jika ia memanjatnya langsung atau menggunakan bantuan alat” kata ibu guru. ”Saya pernah melihat paman sedang memetik buah kelapa, ia menggunakan tangga untuk bisa naik bu” jawab salah satu siswa. ”Tepat sekali anak-anak, jika kita menggunakan tangga saat memetik buah kelapa, itu jauh lebih gampang daripada kita memenjatnya langsung. Tangga juga termasuk pesawat sederhana jenis bidang miring. Dari beberapa cerita diatas, siapa yang bisa mendefinisikan apa itu pesawat sederhana?” guru bertanya kepada siswa kemudian beberapa siswa menjawabnya dengan menggunakan kata-kata sendiri dan guru memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab.
            ”Kalian semua mungkin sudah pahan tentang pesawat sederhana dan alat-alat yang termasuk pesawat sederhana. Apakah ada yang bertanya?” guru memberikan kesempatan kepada siswa yang belum mengerti. ”Buk, mengapa jungkat-jungkit termasuk pesawat sederhana” tanya seorang siswa yang duduk paling belakang. ”Pertanyaan yang bagus. Benar sekali Agus, Jungkat-Jungkit termasuk dalam kategori pengungkit (tuas). Pengungkit merupakan salah satu alat pesawat sederhana yang dapat digunakan untuk mengungkit, mencabut atau mengangkat benda. Jungkat-jungkit gunanya untun mengangkat benda, maka dari itu jungkat-jungkit juga termasuk pesawat sederhana. Jungkat-jungkit merupakan pengungkit jenis pertama, karena letak titik tumpu berada diantara beban dan kuasa. Oh iya anak-anak, ingat ya, pengungkit dibedakan menjadi 3 yaitu pengungkit golongan pertama, pengungkit golongan ke dua dan pengungkit golongan ke tiga. Pengungkit golongan pertama yaitu titik tumpu berada diantara beban dan kuasa. Pengungkit golongan kedua yaitu beban berada diantara titik tumpu dan kuasa. Sedangkan pengungkit jenis ke tiga yaitu kuasa berada diantara titik tumpu dan beban.” kata ibu guru menjelaskan tentang macam-macam pengungkit. Guru juga menjelaskan bahwa benda-benda tajam seperti pisau dan kapak termasuk pesawat sederhana jenis bidang miring karena pada benda-denda tersebut terdapat bidang miring yaitu pada bagian yang tajam, kegunaannya ialah untuk mempermudah melakukan pekerjaan seperti memotong dan membelah. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya lagi, namun tidak ada yang mengacungkan tangan dan guru menganggap semua siswa sudah mengerti.
            Kegiatan selanjutnya yaitu guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Karena dalam kelas terdapat 25 siswa maka siswa dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing kelompok berjumlah 5 orang. Dalam kelompok, guru menugaskan siswa untuk mencari pengertian tuas, komponen tuas dan  mencari letak komponen tersebut serta menggolongkannya ke dalam golongan tuas yang ada. ”Anak-anak kemarin ibu sudah menugaskan kepada kalian untuk membawa alat-alat yang ada hubungannya dengan materi kita hari ini, sekarang coba keluarkan!”. Kelompok 1 membawa gunting, kelompok 2 membawa stapler, kelompok 3 membawa pembuka botol, kelompok 4 membawa pemotong kuku dan kelompok 5 membawa pinset. ”Anak-anak sekarang kerjakan LKS yang ibu bagikan, tolong dijawab serta gambar alat/benda-benda yang sudah kalian bawa dan beri keterangan, serta termasuk jenis pengungkit golongan berapa. Setelah selesai menggambar silahkan tukar benda yang kalian bawa dengan kelompok lainnya hingga semua kelompok menggambar 5 benda yang berbeda”.
            Setelah kegiatan diskusi berlangsung, siswa bersama guru membahas hasil diskusi dan meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikannya ke depan kelas. Selanjutnya guru memberikan penguatan kepada siswa serta penegasan terhadap jawaban yang disampaikan. Setelah kegiatan diskusi berakhir, siswa kembali ke tempat duduk masing-masing dan guru memberikan tugas untuk di kerjakan di rumah. Selanjutnya guru memberi kesempatan pada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami dari materi yang telah dijelaskan. Kemudian guru menjelaskan kembali materi yang belum dipahami oleh siswa dengan memberikan penekanan pada hal-hal yang penting. Pada akhir pembelajaran guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran bersama-sama. Kemudian guru melakukan evaluasi secara lisan. Guru memberikan penilaian terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran. Guru memberikan motivasi pada siswa untuk mengulang-ulang pelajaran di rumah serta menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.


BAB I
PENDAHULUAN


Pelaksanaan pembelajaran yang aktif ,inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan baik yang akan dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas diperlukan persiapan yang matang oleh pendidik semua mata pelajaran. Persiapan yang dimaksud adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan skenario dalam pembelajaran.Dalam penyusunan RPP seorang pendidik perlu memperhatikan pendekatan dan metode jenis apa yang akan dipilih dan dipakai dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi pembelajaran.Pada hakikatnya tidak pernah terjadi satu materi pelajaran disajikan dengan menggunakan hanya satu metode. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna (Rustaman,2003:107). Hal ini dilakukan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai dengan baik.
Metode apa yang paling tepat untuk diterapkan dalam suatu proses pembelajaran ? Hal itu jelas harus dikuasai oleh guru. Lebih jelasnya adalah bahwa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guru harus mampu menguasai berbagai metode yang paling tepat sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.
Penguasaan terhadap metode, alat / media dan teknik pembelajaran ini harus diterapkan dan tercermin dalam program pembelajaran. Jadi pada intinya proses pembelajaran harus bervariatif, metode yang digunakan tidak monoton, sehingga potensi yang ada pada masing-masing anak dapat dikembangkan secara optimal.
Berbagai tuntutan di atas akan dapat terlaksana dengan baik apabila guru yang bersangkutan memiliki kemampuan professional, artinya baik dalam motivasi untuk mengajar maupun kemampuan secara teknis instruksional, guru tersebut benar-benar dapat diandalkan.
Salah satu bentuk profesionalitas seorang guru adalah jika yang bersangkutan mampu menerapkan metode mengajar yang baik, salah satunya adalah metode diskusi dalam pembelajaran.

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Jelaskan definisi strategi pembelajaran yang digunakan dalam RPP?
2.    Jelaskan metode yang digunakan dalam RPP?
3.    Jelaskan teknik atau cara pelaksanaan metode tersebut?

Dari rumusan masalah di atas dapat diketahui tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1.    Mendefinisikan definisi strategi pembelajaran yang digunakan dalam RPP
2.    Menjelaskan metode yang digunakan dalam RPP
3.    Menjelaskan teknik atau cara pelaksanaan metode tersebut